Advertisement

lisensi

Ilham Gunawan
14 May 2022, 23:28 WIB
Last Updated 2022-05-30T17:15:05Z
HeadlineNewsPemilu 2024

Bentuk Koalisi Indonesia Bersatu, Strategi Golkar ‘Genit’ Depan Jokowi?

Advertisement
Foto: Suharso Monoarfa, Zulkifili Hasan, dan Airlangga Hartarto salam komando. (Airlangga)

FragmenKata.com - Sikap Ketua Umum partai Golkar, Airlangga Hartarto, sempat menyita perhatian publik setelah adakan pertemuan di daerah Menteng, Jakarta Pusat dengan dua petinggi partai pendukung pemeritah, yakni PPP dan PAN.

Sebelum bertemu dengan PAN dan PPP, Airlangga diketahui sempat disambangi oleh Agus Harimurti Yudhoyono di kediamannya, dalam rangka safari politik.

Tak lama usai dari pertemuan dengan Ketua Umum partai Demokrat tersebut, muncul kabar jika posisi Airlangga terancam. Kabar mengenai kudeta terdengar keluar. Beberapa petinggi Golkar seperti Nurdin Halid dan Yorrys Raweyai, tidak menampik kabar itu.

Pengamat politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam menilai, terbentuknya koalisi partai politik Indonesia Bersatu yang dipimpin oleh Partai Golkar, mendapat tantangan soal penunjukan calon presiden (capres).

Umam mengatakan, tiga partai yang tergabung dalam koalisi tersebut, yaitu Golkar, PPP, dan PAN, dinilai tidak memiliki tokoh kuat untuk dijadikan sebagai calon pada Pilpres 2024 nanti.

"Skema koalisi di bawah komando Golkar saat ini dihadapkan pada tantangan serius, yaitu tidak jelasnya tokoh sentral yang ditawarkan sebagai capres/cawapres (calon wakil presiden) pada Pemilu 2024," ujar Umam, pada Jumat (13/5/2022).

Elektabilitas dari Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto, berdasarkan dari sejumlah hasil survei, didapati masih relatif rendah. Hasil yang tidak jauh berbeda juga diperoleh Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

Oleh sebab itu, kata Umam, jika pada fase komunikasi awal Golkar sudah mengunci PAN dan PPP untuk mendukung Airlangga sebagai capres, maka akan cenderung menimbulkan kontraproduktif.

Sementara itu, menurut Umam, gerbong koalisi ini akan dihadapkan pada adanya potensi kemenangan yang terbatas dan spekulatif. Umam menilai, PAN dan PPP hanya masuk ke dalam kategori menengah, belum siap jika harus menanggung risiko kekalahan pada Pilpres 2024.

Kendati demikian, situasi politik di Tanah Air relatif mencair, sehingga dukungan dari PAN dan PPP bisa diperoleh dan dikendalikan oleh partai Golkar.

Selain itu, pria yang saat ini aktif sebagai Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (IndoStrategic) berpendapat, narasi yang dibangun partai Golkar saat ini terkait melanjutkan program Presiden Joko Widodo adalah bagian dari strateginya untuk menarik partai politik lain agar berkoalisi dengannya.

"Narasi itu kemungkinan akan digunakan Golkar untuk himpun kekuatan dari partai politik pendukung pemerintah," ucap Umam.

Meski begitu, lanjut Umam, narasi tersebut berpotensi akan memunculkan resistensi, karena selain dinilai tidak memiliki visi, misi, dan platform kerja yang asli untuk ditawarkan kepada publik, narasi tersebut juga seolah-olah bentuk menegasikan peran partai-partai di luar pemerintahan saat ini.

Umam mengusulkan, jika partai Golkar sebaiknya membuat narasi baru agar mendapatkan simpati dan kekuatan dari parpol yang saat ini berada di luar pendukung pemerintah.



Ikuti berita lainnya di Google News, klik di sini