Advertisement

lisensi

Ilham Gunawan
26 April 2022, 15:05 WIB
Last Updated 2022-05-25T02:57:09Z
HeadlineTekno & Sains

Erupsi Anak Gunung Krakatau Berpotensi Bisa Ulangi Kejadian Tsunami pada 2018, Benarkah?

Advertisement

Foto: Anak gunung Krakatau. (ITB)

FragmenKata.com - Siklus dari letusan Gunung Anak Krakatau alami perubahan dari sekitar dua tahunan menjadi empat tahun. Terakhir 22 Desember 2018 lalu, letusan yang diiringi tsunami tersebut telah merenggut 400-an korban jiwa dan menyebabkan ribuan lainnya luka-luka.

Vulkanolog Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, mengatakan status gunung api yang terletak di Selat Sunda tersebut menjadi naik, dari Waspada menjadi Siaga, per Minggu (24/4/2022).

Mirzam mengungkapkan, peningkatan seismisitas yang mengindikasikan terkait adanya pergerakan magma.

"Letusan Gunung Anak Krakatau merupakan fase rutinitas untuk mengeluarkan kelebihan magma," kata Mirzam pada Senin (25/4/2022) malam.

Mirzam menambahkan, posisi magma telah berada di dekat permukaan. Menurutnya, hal ini diindikasikan dengan adanya pelepasan gas SO2 yang tinggi. Jika magma tidak sampai erupsi, posisi dangkal magma akan sangat rentan oleh faktor eksternal.

Hal tersebut berakibat memicunya letusan tiba-tiba seperti yang pernah terjadi di Hawaii pada tahun 2018. Saat itu, posisi magma berada dekat permukaan, kemudian hujan deras mengubah keseimbangan tudung penutup.

Berdasarkan hasil dari kajian tim riset ITB, terindikasi bahwa dapur magma di Gunung Anak Krakatau telah terisi oleh dua sumber yang berbeda. Keduanya berasal dari peleburan lempeng akibat subduksi dan dari kedalaman lapisan mantel bumi.

“Sehingga saat ini Anak Krakatau sedang dalam fase pertumbuhan membentuk kerucut yang lebih besar akibat akumulasi produk letusan,” ujar Mirzam.

Kemudian, apakah akumulasi letusan ini bisa menimbulkan longsor seperti yang terjadi pada tahun 2018 hingga diikuti tsunami? Menurut Mirzam, itu mungkin saja terjadi, namun tidak dikhawatirkan untuk saat ini.

"Karena saat ini volumenya masih kecil dan jauh dari ukuran tubuh Anak Krakatau 2018 lalu,” jelasnya.

Dalam konferensi pers pada Senin malam, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, meminta kepada masyarakat untuk selalu mewaspadai adanya kemungkinan potensi tsunami akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Terutama saat malam hari, karena masyarakat akan sulit melihat ketinggian gelombang air laut.

Meskipun begitu, Dwikorita sudah memastikan BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), akan terus memantau terkait potensi dampak erupsi gunung aktif yang saat ini sednag berlangsung, termasuk di Gunung Anak Krakatau. Informasi terbarunya akan disebarkan lewat saluran resmi BMKG.



Ikuti berita lainnya di Google News, klik di sini